Tag Archives: html

Bagaimana Cara Wanita Zaman Dahulu Menentukan Kehamilan?

4 Cara unik Wanita Zaman Dahulu Menentukan Kehamilan

Setiap pasangan yang sudah menikah tentu saja mendambakan seorang buah hati untuk hadir didalam kehidupan mereka agar kebahagian mereka semakin sempurna. Nah, pada saat zaman yang sudah maju ini biasanya para wanita menggunakan tetspack atau berkunjung ke dokter untuk mencari tahu apakah mereka sudah hamil atau belum.

Namun bagaimana cara wanita zaman dahulu untuk menentukan mereka hamil atau belum ? ternyata cara yang mereka lakukan untuk mengetahui kehamilan pada wanita cukup membuat kita tercengang karena sedikit unik. Gak percaya ? simak tulisan dibawah ini mengenai 4 cara wanita zaman dahulu untuk menentukan kehamilan.

1. Minum bir
Minum bir sangat tidak dianjurkan untuk ibu-ibu yang sedang hamil karena hal ini bisa menyebabkan janin yang ada di kandungan ibu tersebut keguguran. Namun lain halnya dengan wanita zaman dahulu, dimana pada saat itu cara mereka untuk menentukan kehamilan dengan mengkonsumsi bir.

Caranya, mereka akan minum sedikit bir yang sudah diawetkan selama beberapa tahun. Jika bir tersebut terasa sangat pahit, berarti wanita tersebut sedang hamil.

2. Buang air kecil di atas biji gandum
Cara ini dipakai oleh perempuan mesir yaitu dimana seorang tabib di zaman 4000 tahun sebelum masehi menganjurkan para wanita untuk buang air kecil diatas biji gandum yang diletakan diatas kain untuk mengetahui apakah mereka hamil atau tidak. Nah, untuk menandakan mereka hamil atau tidak maka lihat saja gandum tadi, apabila salah satu biji gandum didalam kain tersebut tumbuh maka wanita itu positif hamil.

3. Menggunakan Bawang Putih
Menggunakan bawang putih untuk menentukan kehamilan bisa dikatakan cukup unik sekaligus aneh bagi orang zaman sekarang, tetapi bagi wanita zaman dahulu mereka menggunakan cara ini untuk menentukan kehamilan. Caranya, wanita tersebut memasukan bawang putih ke dalam kewanitaan mereka sebelum tidur malam dan dibiarkan saja hingga sampai pagi hari.

Setelah pagi maka mereka akan mengecek bau napasnya, apabila napas mereka berbau bawang putih maka wanita tersebut dikatakan tidak hamil tetapi apabila tidak maka wanita tersebut positif hamil.

4. Perubahan wajah
Cara yang terakhir wanita zaman dahulu dalam menentukan kehamilan adalah dengan memperhatikan perubahan pada wajahnya. Pada bulan kedua, mata wanita akan tampak lebih cekung ke dalam, dengan pembuluh darah kecil yang terlihat lebih bengkak di sudut matanya. Selain itu, pipi wanita hamil terlihat lebih merona. Hal ini telah dijelaskan oleh dokter Jacques Guillemeau di abad ke 16.

Source: http://informasikankerservik.blogspot.com/2015/04/4-cara-unik-wanita-zaman-dahulu-menentukan-kehamilan.html

 

Antropometri

Hello all…! Let’s see, apa yang akan kita bahas kali ini? Antropometri. Apa itu? Beberapa dari kalian pasti sudah sering mendengar istilah pengukuran antropometri. Tapi mungkin ada baiknya jika kita membahas sedikit mengenai apa pengukuran antropometri itu sebelum masuk ke pembahasan utama kita mengenai peralatan-peralatan yang diperlukan dalam pengukuran antropometri.

Apa itu antropometri?

Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti manusia dan metros yang berarti ukuran. Antropometri dapat didefinisikan sebagai suatu studi tentang pengukuran tubuh manusia dalam hal dimensi tulang, otot, dan jaringan lemak. Dengan pengukuran antropometri ini akan diketahui tinggi badan, berat badan, dan ukuran badan aktual seseorang. Selanjutnya tinggi badan, berat badan dan ukuran tubuh (termasuk skinfolds dan circumferences) aktual seseorang ini dapat digunakan untuk tujuan menilai pertumbuhan dan distribusi lemak tubuh seseorang, serta dapat berguna sebagai data referensi.

Oke, sekarang kita akan langsung melanjutkan dengan beberapa peralatan yang dibutuhkan. Dalam kesempatan kali ini tidak semua alat ukur antropometri akan dibahas tapi hanya beberapa alat saja yang terdapat di ruang Lakesma seperti timbangan, pita LILA dan mikrotoise.

1. Timbangan

Timbangan merupakan salah satu alat ukur antropometri yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang. Dengan alat ini seseorang dapat mengetahui berat badan aktual mereka yang kemudian dapat digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang dikatakan normal atau tidak. Rumus yang paling sering digunakan adalah rumus BMI (Body Mass Index atau Indeks Massa Tubuh) (BB(kg)/TB2(m)). Di mana rentang BMI normal adalah 18,5 – 22,9. Namun perlu diperhatikan bahwa hasil pehitungan BMI ini tidak dapat digunakan untuk membedakan kelebihan berat badan seseorang dikarenakan massa ototnya atau dikarenakan massa lemak tubuh. Seorang atlet dengan massa otot besar bisa saja memiliki hasil perhitungan BMI di atas rentang normal.

2. Pita LILA

Pita LILA (lingkar lengan atas) biasa digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas dari lengan kiri atau lengan yang tidak aktif. Pita ukur ini terbuat dari karton berukuran 36,8 x 3,5 cm dengan lubang di ujungnya dan memiliki skala dalam ukuran sentimeter di kedua sisinya. Sisi pertama untuk mengukur lingkar lengan atas dan sisi lainnya untuk mengukur berat badan. Warna putih menandakan bahwa berat badan/lingkar lengan atas yang cukup, sedangkan warna merah merah menandakan bahwa berat badan/lingkar lengan atas kurang.

Pita LILA

Hasil pengukuran LILA < 23,5 cm biasanya dipakai untuk menunjukkan bahwa seorang wanita usia subur atau wanita hamil beresiko menderita KEK (Kurang Energi Kronis). Selain digunakan untuk menilai resiko KEK seorang wanita, hasil pengukuran LILA juga dapat dipakai untuk mencari tahu nilai BMI. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Powell dan Hennessy (2003) terhadap 1561 pasien emergensi di suatu rumah sakit didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang cukup dekat antara BMI dan LILA yang dinyatakan dalam persamaan:

Untuk pria : BMI=1.01 x LILA – 4.7

Untuk wanita : BMI=1.10 x LILA -6.7

3. Mikrotoise

Mikrotoise adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan seseorang. Dalam menggunakan mikrotoise seseorang perlu berhati-hati dan teliti saat memasang alat sebelum digunakan. Selain itu perlu diperhatikan pula prosedur pelaksanaan pengukuran tinggi bada yang tepat untuk mendapatkan hasil yang benar. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan mikrotoise, antara lain:

Microtoise

Pilihlah tempat dengan dinding vertical (sedapat mungkin 90 derajat) dan permukaan lantai yang horizontal (180 derajat).
Letakan microtoise di lantai dan tarik pita sentimeter ke atas sepanjang dinding sampai angka “0” muncul dan persis pada penunjuk angka microtoise.
Pasang ujung microtoise pada dinding dengan paku/ lakban.
Periksa kembali alat penunjuk angka pada microtoise di lantai apakah masih menunjukan angka “0”. Jika tidak pasang ulang posisi microtoise yang benar.
Subjek yang akan diukur tidak boleh menggunakan alas kaki dan topi.
Mikrotoa digeser ke atas sehingga lebih tinggi dari subjek yang akan di ukur.
Pastikan bahwa subjek tersebut tidak menggunakan alas kaki dan tutup kepala (Topi).
Subjek yang akan diukur berdiri tegak lurus dan rapat ke dinding tepat dibawa mikrotoa (kepala bagian belakang, bahu bagian belakang, pantat dan tumit harus rapat ke dinding serta pandangan rata ke depan)
Geser mikrotoa sampai menyentuh tapat pada bagian atas kepala dan pastikan sisi mikrotoa tetap menempel rapat ke dinding.
Lalu baca penunjukan mikrotoa dengan pembacaan dilakukan dari arah depan tegak lurus dengan mikrotoa (Posisi pembacaan sangat mempengaruhi hasil tinggi badan.
Pencatatan tinggi badan silakukan dengan ketelitian satu angka sibelakang koma. (0,1)

Referensi

Depkes. 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 747/Menkes/SK/VI/2007 tentang Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi Di Desa Siaga. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/ped-ops-Kadarzi.pdf. Diakses pada tanggal 14 Juni 2012.

Ismail, Ikram Shah. 2004. Management of Obesity. http://www.moh.gov.my/attachments/3932. Diakses pada tanggal 16 April 2012.

National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES). 2004. Anthropometry Procedures Manual. http://www.cdc.gov/nchs/data/nhanes/nhanes_03_04/BM.pdf. Diakses pada tanggal 14 Juni 2012.

Powell et al. 2003. A comparison of mid upper arm circumference, body mass index and weight loss as indices of undernutrition in acutely hospitalized patients. http://www.umdnj.edu/ idsweb/idst8000/charney_article.pdf. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012

 

Sumber: Lakesma FKUB