Category Archives: Wordpress

Mendengarkan Bayi Anda

Mendengarkan bayi Anda

ketika kehamilan berlanjut, bidan/dokter mulai mencoba untuk mendengar detak jantung janin Anda. Hal ini terutama ditujukan untuk mengkonfirmasikan bahwa janin Anda memang hidup.
Detak jantung janin ini berubah saat mereka tumbuh. Dengan 8 sampai 10 minggu kehamilan (ketika detak jantung pertama dapat diukur pada gambar USG) tingkat secara signifikan lebih tinggi di sekitar 170 sampai 200 denyut per menit (x/menit). Namun, dengan sekitar 20 minggu tingkat turun lebih sekitar 120 sampai 160 denyut per menit, tetapi mungkin berfluktuasi antara 110 dan 170 x/menit, biasanya dalam kaitannya dengan bayi bergerak (tingkat yang lebih tinggi ketika mereka lebih aktif dan lebih rendah ketika mereka tidur). Selama persalinan dan setelah kelahiran denyut jantung mereka tetap antara 120 dan 160 bpm (berkisar 110-170 x/menit).

Tahukah Anda? Detak jantung bayi yang belum lahir dapat terdengar sedikit seperti kuda berderap.

Mampu mendengar detak jantung bayi Anda adalah sesuatu yang kebanyakan orang tua tunggu dengan penuh harap. Namun, ini hanya menjadi mungkin dalam beberapa tahun terakhir dengan penggunaan teknologi Doppler oleh bidan/dokter. Ada dua buah peralatan yang dapat digunakan untuk mendengarkan detak jantung janin Anda. Ini adalah:

– Pinard ini stetoskop/ leanex

Stetoskop Pinard itu. Di masa lalu, bidan paling banyak menggunakan stetoskop Pinard untuk mendengarkan detak jantung janin. Ini adalah alat berbentuk kerucut terbuat dari plastik, logam atau kayu ditempatkan pada perut wanita di bagian bahu/punggung janin (bisa ditemukan setelah bidan/dokter malakukan palpasi**) lalu kemudian mereka menempatkan alat tersebut pada telinga untuk mendengarkan bayi, kadang-kadang menghitung tingkat denyut jantung per menit.

stetoskop Pinard ini hanya dapat digunakan setelah sekitar 20 sampai 24 minggu kehamilan, saat bayi cukup besar untuk mendengar detak jantung mereka dengan jelas dengan cara ini.
Banyak orang tua mencoba untuk mendengar detak jantung janin mereka dengan stetoskop biasa. Ini kadang-kadang efektif, tetapi tidak selalu mudah untuk mendengar. Setelah sekitar 30 sampai 32 minggu kehamilan, pasangan Anda mungkin dapat mendengar detak jantung bayi anda dengan menempatkan telinga mereka langsung pada perut Anda. Ini membantu jika mereka memiliki ide di mana bayi berbaring, menempatkan telinga mereka di mana Anda berpikir letak bahu janin. bahkan beberapa orang yang telah menggunakan roll kardus toilet kosong untuk melakukan hal ini!

Keterangan:
** PALPASI
Palpasi = prosedur rutin yang merupakan bagian dari setiap kunjungan antenatal setelah sekitar 12 minggu kehamilan.
Palpasi adalah istilah medis untuk meraba.
Tujuan mereka melakukan palpasi pada perut Anda adalah untuk memonitor perubahan ukuran rahim Anda dan pertumbuhan dan posisi bayi Anda untuk menilai sesuai dengan perkembangan dan “kemanuan” kehamilan.
Tindakan palpasi ini tidak menyakiti bayi Anda karena mereka dikelilingi oleh bantalan yaitu cairan ketuban.

Source: Bidan Kita 2013

 

Antropometri

Hello all…! Let’s see, apa yang akan kita bahas kali ini? Antropometri. Apa itu? Beberapa dari kalian pasti sudah sering mendengar istilah pengukuran antropometri. Tapi mungkin ada baiknya jika kita membahas sedikit mengenai apa pengukuran antropometri itu sebelum masuk ke pembahasan utama kita mengenai peralatan-peralatan yang diperlukan dalam pengukuran antropometri.

Apa itu antropometri?

Antropometri berasal dari kata anthropos yang berarti manusia dan metros yang berarti ukuran. Antropometri dapat didefinisikan sebagai suatu studi tentang pengukuran tubuh manusia dalam hal dimensi tulang, otot, dan jaringan lemak. Dengan pengukuran antropometri ini akan diketahui tinggi badan, berat badan, dan ukuran badan aktual seseorang. Selanjutnya tinggi badan, berat badan dan ukuran tubuh (termasuk skinfolds dan circumferences) aktual seseorang ini dapat digunakan untuk tujuan menilai pertumbuhan dan distribusi lemak tubuh seseorang, serta dapat berguna sebagai data referensi.

Oke, sekarang kita akan langsung melanjutkan dengan beberapa peralatan yang dibutuhkan. Dalam kesempatan kali ini tidak semua alat ukur antropometri akan dibahas tapi hanya beberapa alat saja yang terdapat di ruang Lakesma seperti timbangan, pita LILA dan mikrotoise.

1. Timbangan

Timbangan merupakan salah satu alat ukur antropometri yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar orang. Dengan alat ini seseorang dapat mengetahui berat badan aktual mereka yang kemudian dapat digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang dikatakan normal atau tidak. Rumus yang paling sering digunakan adalah rumus BMI (Body Mass Index atau Indeks Massa Tubuh) (BB(kg)/TB2(m)). Di mana rentang BMI normal adalah 18,5 – 22,9. Namun perlu diperhatikan bahwa hasil pehitungan BMI ini tidak dapat digunakan untuk membedakan kelebihan berat badan seseorang dikarenakan massa ototnya atau dikarenakan massa lemak tubuh. Seorang atlet dengan massa otot besar bisa saja memiliki hasil perhitungan BMI di atas rentang normal.

2. Pita LILA

Pita LILA (lingkar lengan atas) biasa digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas dari lengan kiri atau lengan yang tidak aktif. Pita ukur ini terbuat dari karton berukuran 36,8 x 3,5 cm dengan lubang di ujungnya dan memiliki skala dalam ukuran sentimeter di kedua sisinya. Sisi pertama untuk mengukur lingkar lengan atas dan sisi lainnya untuk mengukur berat badan. Warna putih menandakan bahwa berat badan/lingkar lengan atas yang cukup, sedangkan warna merah merah menandakan bahwa berat badan/lingkar lengan atas kurang.

Pita LILA

Hasil pengukuran LILA < 23,5 cm biasanya dipakai untuk menunjukkan bahwa seorang wanita usia subur atau wanita hamil beresiko menderita KEK (Kurang Energi Kronis). Selain digunakan untuk menilai resiko KEK seorang wanita, hasil pengukuran LILA juga dapat dipakai untuk mencari tahu nilai BMI. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Powell dan Hennessy (2003) terhadap 1561 pasien emergensi di suatu rumah sakit didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang cukup dekat antara BMI dan LILA yang dinyatakan dalam persamaan:

Untuk pria : BMI=1.01 x LILA – 4.7

Untuk wanita : BMI=1.10 x LILA -6.7

3. Mikrotoise

Mikrotoise adalah alat yang digunakan untuk mengukur tinggi badan seseorang. Dalam menggunakan mikrotoise seseorang perlu berhati-hati dan teliti saat memasang alat sebelum digunakan. Selain itu perlu diperhatikan pula prosedur pelaksanaan pengukuran tinggi bada yang tepat untuk mendapatkan hasil yang benar. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan mikrotoise, antara lain:

Microtoise

Pilihlah tempat dengan dinding vertical (sedapat mungkin 90 derajat) dan permukaan lantai yang horizontal (180 derajat).
Letakan microtoise di lantai dan tarik pita sentimeter ke atas sepanjang dinding sampai angka “0” muncul dan persis pada penunjuk angka microtoise.
Pasang ujung microtoise pada dinding dengan paku/ lakban.
Periksa kembali alat penunjuk angka pada microtoise di lantai apakah masih menunjukan angka “0”. Jika tidak pasang ulang posisi microtoise yang benar.
Subjek yang akan diukur tidak boleh menggunakan alas kaki dan topi.
Mikrotoa digeser ke atas sehingga lebih tinggi dari subjek yang akan di ukur.
Pastikan bahwa subjek tersebut tidak menggunakan alas kaki dan tutup kepala (Topi).
Subjek yang akan diukur berdiri tegak lurus dan rapat ke dinding tepat dibawa mikrotoa (kepala bagian belakang, bahu bagian belakang, pantat dan tumit harus rapat ke dinding serta pandangan rata ke depan)
Geser mikrotoa sampai menyentuh tapat pada bagian atas kepala dan pastikan sisi mikrotoa tetap menempel rapat ke dinding.
Lalu baca penunjukan mikrotoa dengan pembacaan dilakukan dari arah depan tegak lurus dengan mikrotoa (Posisi pembacaan sangat mempengaruhi hasil tinggi badan.
Pencatatan tinggi badan silakukan dengan ketelitian satu angka sibelakang koma. (0,1)

Referensi

Depkes. 2007. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 747/Menkes/SK/VI/2007 tentang Pedoman Operasional Keluarga Sadar Gizi Di Desa Siaga. http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/ped-ops-Kadarzi.pdf. Diakses pada tanggal 14 Juni 2012.

Ismail, Ikram Shah. 2004. Management of Obesity. http://www.moh.gov.my/attachments/3932. Diakses pada tanggal 16 April 2012.

National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES). 2004. Anthropometry Procedures Manual. http://www.cdc.gov/nchs/data/nhanes/nhanes_03_04/BM.pdf. Diakses pada tanggal 14 Juni 2012.

Powell et al. 2003. A comparison of mid upper arm circumference, body mass index and weight loss as indices of undernutrition in acutely hospitalized patients. http://www.umdnj.edu/ idsweb/idst8000/charney_article.pdf. Diakses pada tanggal 9 Mei 2012

 

Sumber: Lakesma FKUB